
Assalammualaikum Wr.Wb
Pemilu 09 April 2014 sudah hampir mendekat setelah berkunjung ke beberapa situs, akhirnya menemukan sebuah informasi menarik tentang Draft Pemikiran Pemilu (Jaringan Independent Pemantau PEMILU) Dari Pak Ono W Purbo. Siapa Pak Onno W Purbo ?
Onno Widodo Purbo (lahir di Bandung, Jawa Barat, 17 Agustus 1962; umur 51 tahun) adalah seorang tokoh dan pakar di bidang teknologi informasi asal Indonesia. Selain pakar, Onno juga dikenal sebagai penulis, pendidik, dan pembicara seminar. Sebagai aktivis Onno dikenal dalam upayanya memperjuangkan internet murah dan menyebarkan Linux. Karya inovatifnya diantaranya adalah Wajanbolic, sebagai upaya koneksi internet murah tanpa kabel dan RT/RW-Net sebagai jaringan komputer swadaya masyarakat untuk menyebarkan internet murah, serta penerapan Open BTS Ia memulai pendidikan akademis di ITB pada jurusan Teknik Elektro pada tahun 1981 dan lulus dengan predikat wisudawan terbaik, kemudian melanjutkan studi ke Kanada dengan beasiswa dari PAUME.
Ia juga aktif menulis dalam bidang teknologi informasi media, seminar, konferensi nasional maupun internasional dan percaya filosofi copyleft (sumber terbuka), banyak tulisannya dipublikasi secara gratis di internet.
Sebagai pakar teknologi Onno tidak menggunakan telpon genggam pintar (smartphone) namun netbook dan telepon seluler Android merek lokal. Pada Tahun 2013, Ia bergabung sebagai dosen di Surya University, universitas yang didirikan oleh fisikawan; Prof. Yohanes Surya, Ph.D. Sumber : id.wikipedia.org
Setelah melihat selayang pandang profil pak Onno berikut ini draft pemikiran jaringan pemantau pemilu :
Draft Pemikiran Untuk Jaringan Independent Pemantau PEMILU
Oleh: Onno W. Purbo, ITB - 15 January, 1999
Pemilu 09 April 2014 sudah hampir mendekat setelah berkunjung ke beberapa situs, akhirnya menemukan sebuah informasi menarik tentang Draft Pemikiran Pemilu (Jaringan Independent Pemantau PEMILU) Dari Pak Ono W Purbo. Siapa Pak Onno W Purbo ?
Onno Widodo Purbo (lahir di Bandung, Jawa Barat, 17 Agustus 1962; umur 51 tahun) adalah seorang tokoh dan pakar di bidang teknologi informasi asal Indonesia. Selain pakar, Onno juga dikenal sebagai penulis, pendidik, dan pembicara seminar. Sebagai aktivis Onno dikenal dalam upayanya memperjuangkan internet murah dan menyebarkan Linux. Karya inovatifnya diantaranya adalah Wajanbolic, sebagai upaya koneksi internet murah tanpa kabel dan RT/RW-Net sebagai jaringan komputer swadaya masyarakat untuk menyebarkan internet murah, serta penerapan Open BTS Ia memulai pendidikan akademis di ITB pada jurusan Teknik Elektro pada tahun 1981 dan lulus dengan predikat wisudawan terbaik, kemudian melanjutkan studi ke Kanada dengan beasiswa dari PAUME.
Ia juga aktif menulis dalam bidang teknologi informasi media, seminar, konferensi nasional maupun internasional dan percaya filosofi copyleft (sumber terbuka), banyak tulisannya dipublikasi secara gratis di internet.
Sebagai pakar teknologi Onno tidak menggunakan telpon genggam pintar (smartphone) namun netbook dan telepon seluler Android merek lokal. Pada Tahun 2013, Ia bergabung sebagai dosen di Surya University, universitas yang didirikan oleh fisikawan; Prof. Yohanes Surya, Ph.D. Sumber : id.wikipedia.org
Setelah melihat selayang pandang profil pak Onno berikut ini draft pemikiran jaringan pemantau pemilu :
Draft Pemikiran Untuk Jaringan Independent Pemantau PEMILU
Oleh: Onno W. Purbo, ITB - 15 January, 1999
Disclaimer:
- Tulisan ini dibuat sebagai masukan.
- Tulisan ini berusaha dibuat utk serealistis mungkin.
- Tulisan ini belum pernah diuji secara engineering kelayakannya.
Asumsi Masalah
- Jumlah TPS diperkirakan 300.000 TPS
- Jumlah Kecamatan diperkirakan 30.000 Kecamatan
- Jumlah Kabupaten diperkirakan 300 kabupaten
- Jumlah Propinsi diperkirakan 27 Propinsi.
- Jaringan Telekomunikasi reliable s/d Kabupaten
Kunci
- Prosedur Security (Keamanan)
- Prosedur Authentication
- Distributed Network
Approach
- Jaringan komputer akan bertumpu pada jaringan Telkom yang reliable - akan digunakan s/d Kabupaten (300-400 node).
- Jaringan radio (Amatir Radio & CB) & non-electronic sebagai back-up dapat digunakan s/d TPS (300.000 buah).
- Mekanisme security & authentication CONVENTIONAL digunakan pada tingkat kecamatan & TPS. Mahasiswa mungkin bisa digerakan s/d TPS (meskipun saya tidak yakin).
Jaringan Komputer Pemantau Pemilu
Security & Authentication:
- Sebaiknya bertumpu pada fasilitas Public Key Server (PKS) menggunakan Protocol Security Pretty Good Privacy (PGP) dengan max. 2048 bit key yang sangat sukar di tembus. Keseluruhan teknologi public domain, jadi deployment dapat murah.
- PGP dapat menjadi fasilitas bagi Digital Signature (Authentication) maupun utk Enkripsi (Security) - jadi kedua objektif dapat dicapai dengan mudah menggunakan sebuah software.
- Public Key Server (PKS) harus dibangun sebaiknya menggunakan UNIX (FreeBSD) pada mesin Pentium (~US$3000), melihat infrastruktur network yang ada tampaknya hanya satu perguruan tinggi di Indonesia yang mampu yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB).
- PGP Client software pada Windows & DOS harus disebarkan ke semua unit di lapangan, registrasi PGP harus dilakukan ke PKS, dapat melalui E-mail atau Web.
Integrasi Jaringan
- Jaringan AI3 Indonesia (ITB sebagai leader) dengan 27 lembaga pendidikan yang terkait dari Banda Aceh hingga Manado dapat menjadi jaringan utama.
- Utk mengcover seluruh kabupaten harus dilakukan koneksi ke jaringan TelkomNet (9 POP) & Wasantara (400 POP), hal ini harus dilakukan dengan instalasi:
- WaveLAN 2-5Mbps di 2.4 GHz ke TelkomNet (~US$20.000 sepasang)
- WaveLAN 2-5Mbps di 2.4 GHz ke Wasantara (~US$20.000 sepasang).
- Border Gateway Protocol (BGP) Routing di aktifkan secara penuh di ke dua jaringan besar yang terkait.
- Server PKS dijalankan di Network Operation Center (NOC) di ITB, dengan backup di TelkomNet / WasantaraNet.
- Remote sites yang saat ini belum on-line ke Internet dihubungkan secara dial-on-demand / dial-up melalui Point-of Precense (POP) yang ada di TelkomNet & WasantaraNet.
Disseminasi Informasi
- Proses diseminasi dilakukan melalui Web & mailing list yang di arsipkan di Web.
- Web server sebaiknya di ITB & di mirror di Indonesia Internet Exchange (IIX).
- Web server dibangun menggunakan FreeBSD, mSQL utk Database, dengan fasilitas submission melalui E-mail setelah melalui proses authentication dari PGP.
- Opini masyarakat juga dapat dioleh melalui Web server tersebut.
- Disseminasi hasil dapat dilakukan secara pro-active menggunakan Information Push Technology utk menyebarkan hasil secara periodik melalui E-mail keberbagai media & unsur masyarakat yang membutuhkan.
- Perlu alokasi SDM yang serius utk menangani pembangunan Web ini, insentif bagi 10 orang Webmaster bekerja full-time s/d PEMILU akan sangat baik.
Persiapan Remote Node
Secara Teknis
- Asumsi bahwa PC sudah tersedia umumnya di perguruan tinggi / lembaga pendidikan di remote kabupaten. Jika tidak harus disediakan (~US$700 / PC)
- Modem (2 buah - utk backup) harus disediakan utk setiap node, estimasi 600 buah modem (600 x ~US$100).
- Remote node, tidak dihubungkan secara leased line utk menghemat biaya
- Remote node akan melakukan dial-on demand ke POP Wasantara / TelkomNet, biaya abodemen sekitar Rp. 40.000-100.000 / bulan + pulsa telepon (~Rp. 100-200.000 / bulan) utk setiap node.
- Sebetulnya sebaiknya setiap node subscribe pada 2 ISP sekaligus sebagai backup.
- Training SDM harus dilakukan paling tidak 2 x sebelum D-Day, melibatkan seluruh personal teknis dilapangan (2 x 300-400 orang training).
Non-Teknis & SDM
- Forum koordinasi harus dilakukan secara terus menerus sejak January 1999 melalui mailing list E-mail.
- Badan koordinasi harus dibangun di tingkat Kabupaten utk menangani jaringan non-electronic hingga TPS utk menjamin security & authentication data hingga kabupaten.
- Perguruan Tinggi yang mempunyai massa SDM yang cukup besar & siap sisi teknis jaringan adalah ITB
- (Bandung), UI (Jakarta), ITS (Surabaya), UMM (Malang), UNILA (Lampung), UNTAN (Pontianak),
- UNPAR (Bandung), Petra (Surabaya) & banyak perguruan tinggi di Jakarta. Mobilisasi & program training
- for trainers harus dilakukan utk dapat mengcover hingga kabupaten.
Nah Untuk PGP RSA 2048 bit dibutuhkan waktu 4,3 miliar kali lebih lama daripada waktu yang dibutuhkan untuk memecahkan enkripsi 1024 bit. Untuk membongkar keamanan seperti ini dibutuhkan super komputer tapi tidak ada yang tidak mungkin karena manusia bukanlah makhluk sempurna. Setidaknya Draft dari pak onno diatas yang di buat pada bulan 15 januari 1999 menandakan keamanan pemantauan pemilu adalah prioritas utama memperkecil kemungkinan data bocor.